Napas Sesak di Zaman Transisi
Napas terasa sempit,
ketika dunia kian berliku dan tak sederhana lagi.
Bumi Utara menjadi ladang perebutan kuasa,
tanah-tanah digambar ulang oleh ambisi dan bara.
Bumi Timur menyalakan lentera kemanusiaan,
menjunjung nurani di atas singgasana kekuatan.
Bumi Barat berkecamuk dalam tanya,
menentukan arah masa depan dengan gelisah yang tak reda.
Bumi Selatan, tersisih dalam bayang-bayang,
tetap berdiri—mandiri, meski diterpa angin yang panjang.
Kita hidup di era perlombaan tak kasatmata,
siapa paling canggih, siapa paling dipuja.
Satu opini menjelma kitab suci bagi ribuan jiwa,
kebenaran dan tiruan nyaris tak lagi berbeda rupa.
Batin terlelap dalam dekapan algoritma,
terbuai arus angka dan gema semu dunia maya.
Sementara raga tertatih mencari makna,
terbebani prioritas yang tak kunjung selesai ditata.
Kehidupan terus berputar tanpa jeda,
tahun berganti seperti daun yang luruh tanpa suara.
Perayaan tetap dinanti dengan cahaya di mata,
doa-doa terangkat lirih kepada Yang Maha Esa.
Cobaan datang silih berganti,
bagai ombak yang tak lelah menguji tepi.
Namun selama makhluk bernama manusia
masih menyimpan nurani di dalam dada,
jiwa akan tetap menyala—
menjalani hidup yang dihidupkan-Nya.
Di saat sesak ini dan riuh zaman,
semoga kita tak kehilangan arah pulang.
-paris-
Komentar
Posting Komentar